Tempat Tempat bersejarah Di Tabagsel

1. Masjid Sri Alam Dunia 
        
Masjid Sri Alam Dunia terletak di Sipirok, Tapanuli Selatan, dan merupakan simbol penting dalam penyebaran Islam di daerah tersebut. Awalnya dibangun sebagai surau kecil oleh Syekh Abdul Manan Siregar pada tahun 1926 dan diresmikan pada 1933, masjid ini memiliki arsitektur yang memadukan ornamen Arab dan Melayu. Masjid ini menjadi pusat kegiatan sosial dan keagamaan bagi masyarakat Sipirok, mencerminkan semangat gotong royong warga dalam membangun tempat ibadah ini. Keberadaannya juga menandakan toleransi beragama di kawasan tersebut.
2. Gereja HKBP Di Parau Sorat


   Gereja pertama di Parau Sorat, Sipirok, adalah bagian dari sejarah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Pada 31 Maret 1861, baptisan pertama dilakukan oleh Pendeta Gerrit van Asselt kepada dua suku Batak, menandai awal misi Kristen di daerah tersebut. Pada 7 Oktober 1861, pertemuan misionaris menetapkan pembagian wilayah penginjilan, yang dianggap sebagai hari lahir HKBP. Gereja ini berkembang pesat, dengan pendirian sekolah guru pada 1868 dan berbagai jemaat lainnya di kawasan sekitarnya.
3. Benteng Huraba


Benteng Huraba, terletak di Kecamatan Batang Angkola, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, adalah situs bersejarah yang menjadi simbol perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dikenal juga sebagai "Benhur," benteng ini dibangun untuk melawan agresi militer Belanda selama tahun 1940-an. Di lokasi ini terdapat dua meriam bersejarah: Meriam Simanis dan Meriam Lucsim, yang digunakan oleh pejuang untuk mempertahankan wilayah tersebut13. Benteng ini diresmikan sebagai monumen pada 21 November 1981, dan merupakan tempat wisata yang menarik bagi pengunjung yang ingin belajar tentang sejarah perjuangan bangsa.

4. Jembatan Trikora

Jembatan Trikora di Batang Toru adalah jembatan yang menghubungkan Kelurahan Wek I dengan Desa Siborang, melintasi Sungai Batang Toru. Jembatan ini memiliki peranan penting dalam meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas masyarakat setempat. Dikenal dengan nama "Trikora," jembatan ini juga menjadi simbol sejarah dan budaya bagi warga sekitar, mencerminkan perkembangan infrastruktur di daerah tersebut. Sejak dibangun, jembatan ini telah mendukung berbagai aktivitas ekonomi dan sosial di Batang Toru, menjadikannya sebagai salah satu titik penting dalam jaringan transportasi lokal.
5. Pajak Batu atau Pos kota



Pajak Batu, juga dikenal sebagai Pos Kota, terletak di Padangsidimpuan dan memiliki sejarah penting. Didirikan pada tahun 1960-an, tempat ini menjadi pusat perhatian ketika Soekarno berpidato di balkon gedung tersebut, menggelorakan semangat kemerdekaan di hadapan ribuan rakyat. Pajak Batu merupakan pasar modern pertama di kawasan Tapanuli Selatan, dibangun dari batu bata dan dikenal dengan desain unik atap melengkung. Saat ini, gedung ini sedang direstorasi menjadi Pasar Wisata untuk menarik pengunjung lokal dan mancanegara.
6. Batunadua Tiang Bendera


Tiang Bendera Batunadua terletak di Padangsidimpuan, Sumatera Utara, dan merupakan simbol sejarah yang penting. Didirikan oleh raja-raja Batunadua, tiang ini menandai lokasi di mana penjajah Belanda membakar kediaman para raja pada masa kolonial. Menurut Sulaiman Harahap, keturunan raja, tiang ini juga berfungsi sebagai pengingat akan kekejaman penjajahan. Meskipun kini hanya menjadi peninggalan sejarah yang terlupakan, setiap 17 Agustus, bendera dikibarkan di sana untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Pemerintah setempat belum mengambil langkah untuk melestarikannya sebagai cagar budaya
7. Makam Pahlawan Di Sipirok


Makam pahlawan di Sipirok, Tapanuli Selatan, merupakan tempat persemayaman para pejuang yang gugur dalam perang gerilya. Di antara mereka adalah Djaromahot Nasution, seorang tokoh pemersatu kerukunan beragama. Taman Makam Pahlawan di Sipirok sering menjadi lokasi kegiatan penghormatan, seperti malam renungan suci menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Selain itu, Sipirok juga dikenal sebagai pusat penyebaran ajaran Islam di Tanah Batak dan memiliki banyak situs bersejarah lainnya.
8. Gereja HKBP Di Sipirok


Gereja HKBP Sipirok, yang merupakan bagian dari Huria Kristen Batak Protestan, didirikan pada 7 Oktober 1861 oleh misionaris Belanda, Gerrit van Asselt. Gereja ini menjadi pusat penyebaran agama Kristen di Tanah Batak, yang sebelumnya didominasi oleh Islam. Meskipun mengalami berbagai tantangan sosial dan budaya, HKBP Sipirok tetap bertahan dan berkembang. Bangunan gereja kini berstatus sebagai cagar budaya dan mencerminkan arsitektur klasik-modern. Pada 25 Desember 1864, gereja ini juga mencatat pembaptisan pertama tiga orang jemaat.
9. Tugu Siborang


Tugu Siborang, juga dikenal sebagai Bayo Kokong, terletak di Kota Padangsidimpuan, Indonesia. Tugu ini didirikan untuk menghormati Kapten Ramses Harahap dan Hutagalung, pejuang kemerdekaan yang berjuang melawan penjajahan Belanda sekitar tahun 1949. Mereka adalah anggota Pasukan Banteng Hitam yang ditugaskan untuk misi spionase. Setelah tertangkap, keduanya dieksekusi, sementara adik Ramses, Samuel, dibebaskan. Tugu ini menjadi simbol perjuangan masyarakat Tapanuli dan kini memerlukan perawatan lebih baik untuk menjaga nilai historisnya.
10. Makam Marga Siregar Pertama Di Sipirok


Makam marga Siregar pertama di Bunga Bondar adalah Makam Sutan Doli, yang terletak di Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sutan Doli, sebagai generasi kelima dari Ompu Raja Lintong, pendiri desa, merupakan tokoh penting yang dihormati di wilayah tersebut. Makam ini sederhana namun dilindungi dengan cungkup dan memiliki tulisan beraksara Batak, mencerminkan tradisi megalitik setempat. Desa Bunga Bondar juga dikenal dengan pemandangan alam yang indah dan rumah tradisional yang masih ada.
11. Bagas Godang Di Sipirok


Bagas Godang adalah rumah adat tradisional Batak Mandailing yang terletak di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Dengan arsitektur khas, bangunan ini berbentuk persegi panjang dan terbuat dari kayu, memiliki beberapa ruang seperti ruang depan, ruang tengah, dan dapur. Bagas Godang berfungsi sebagai tempat prosesi adat dan pertemuan masyarakat. Selain itu, kompleks ini mencakup Sopo Godang dan Sopo Gondang, yang juga memiliki fungsi budaya dan sosial yang penting bagi komunitas setempat.
12. Mesjid Syech Zainal Abidin Di Padang Sidimpuan


Masjid Syekh Zainal Abidin, terletak di Desa Pudun Jae, Padangsidimpuan, didirikan pada tahun 1880 oleh Syekh Zainal Abidin Harahap (1811-1901) setelah beliau kembali dari belajar di Mekkah. Awalnya, masjid ini berfungsi sebagai pusat pendidikan dan kegiatan sosial, namun kini lebih fokus pada ibadah. Bangunan ini, yang merupakan masjid tertua di Padangsidimpuan, dibangun dalam waktu 24 jam dengan material lokal seperti tanah liat dan batu kapur, mampu menampung sekitar 100 jamaah. Masjid ini juga diakui sebagai cagar budaya sejak 2014.
13. Gua Jepang Di Padang Sidimpuan


Bagas Godang Pijorkoling adalah sebuah rumah adat tradisional Batak Karo yang terletak di Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Sebagai simbol budaya, bangunan ini memiliki arsitektur khas dengan struktur kayu besar dan ornamen yang melambangkan nilai-nilai masyarakat setempat. Bagas Godang berfungsi sebagai tempat tinggal raja dan pusat kegiatan adat, mencerminkan sejarah panjang dan tradisi masyarakat Mandailing yang dimulai sejak abad ke-16126. Selain itu, bangunan ini juga terdaftar sebagai cagar budaya yang perlu dilestarikan
14. Bagas Godang Pijorkoling


Bagas Godang Pijorkoling adalah rumah adat khas Batak Karo yang terletak di Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Bangunan ini memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, berukuran besar, dan merupakan salah satu cagar budaya yang terdaftar di provinsi tersebut. Selain sebagai tempat wisata, Raja Bagas Godang Pijorkoling, Basa Sahala Harahap, juga aktif dalam mendukung pelestarian budaya lokal, seperti falsafah "Poda Na Lima" yang penting bagi masyarakat Angkola dan Mandailing. Bagas Godang Pijorkoling buka untuk umum dari pukul 03.00 hingga 12.00.
15. Bioskop Angkola ( Horas ) di Padangsidimpuan Tempo Doeloe
 

                 Bioskop Angkola atau Angkola Theater  adalah sebuah bioskop di Padang Sidempuan yang sudah ada sejak era Belanda. Foto-1 memperlihatkan tampilan Bioskop Angkola sekitar tahun 1936-1939. halaman bioskop ini masih bersih an rapih dengan latar belakang perumahan elit-elit Belanda Bioskop Angkola ini dikemudian hari berganti nama menjadi bioskop Horas, Bioskop ini beralamat di Jalan Gatot Subroto, jalan yang menghubungkan Pusat Pasar dengan Gedung Nasional. Tampilan Bioskop Angkola ini pada tahun 1960-an sudah sangat terkesan kumuh  Pada tahun 1970-an dibangun sebuah bioskop di Kampung Teleng dengan nama Bioskop Tapanuli atau juga disebut Bioskop Rajawali. Pada awal tahun 1980 sebuah biskop dibangun lagi yang terletak di samping Bioskop Horas, Bioskop ini diberi nama Bioskop Presiden 
16. Perpustakaan Hutapungkut 


                 Perpustakaan & Museum Kebudayaan Mandailing menjadi destinasi menarik bagi para pecinta budaya dan sejarah. Koleksi bukunya yang lengkap, mulai dari literatur umum hingga referensi khusus tentang Mandailing, menjadikannya sumber informasi berharga bagi masyarakat lokal dan luar daerah. beragam buku yang tersedia, baik cetak maupun digital, telah dimanfaatkan sebagai bahan penelitian dan referensi. Bahkan, beberapa judul buku dan informasi dari perpustakaan ini telah disiarkan secara lokal dan nasional melalui media televisi. koleksi perpustakaan tak hanya terpaku pada buku. Ribuan majalah dan puluhan foto serta pajangan barang-barang bersejarah Mandailing turut melengkapi khazanah pengetahuan dan budaya yang tersimpan di tempat ini. 
17. Meriam Pasukan Belanda 


                 Benteng yang memiliki dua meriam ini merupakan area untuk melawan agresi milter Belanda kedua. diresmikan pada 21 November 1981 oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jendral Polisi DR Awaloedin Djamin MPA ini merupakan monumen peristiwa perjuangan merebut kembali kemerdekaan Republik Indonesia pada 5 Mei 1949 setelah Belanda kembali menyerang karena tidak menerima kemerdekaan Indonesia nama kedua meriam ini yakni, Meriam Simanis dan Meriam Lucsim. 
18. Meriam Lucsim 

                 Senjata para pejuang harus merampasnya terlebih dahulu dari pihak musuh dengan mempertaruhkan jiwa dan raga. Untuk memiliki senjata berat seperti meriam ini, M. Kadiran sebagai Kepala Mobrig Keresidenan Tapanuli ketika itu, mengumpulkan pasukan untuk menyebrangi Sibolga menuju pulau Poncan Gadang. Tujuannya tentu satu, untuk mengambil senjata bekas Jepang yang ditinggal di Pulau Poncan Gadang, teluk Sibolga. Maka sesampainya rombongan anggota Pasukan Barisan Istimewa Polisi Keresidenan Tapanuli di Pulau Poncan Gadang, maka M. Kadiran melihat dan memeriksa keadaan Meriam Bekas Tentara Jepang tersebut masih dapat di pergunakan. 
19. Sumur Besar Multatuli


                 Multatuli yang bernama asli Douwes Dekker pernah dibuang karena menentang negaranya sendiri ke daerah pantai barat. Tepatnya di Natal pada tahun 1942, dia tinggal disana selama 4 tahun, sumur ini di bangun dan di pergunakan sebagai sumber air bersih untuk minum dan menjamu para tamu.
20. Pesanggrahan Kotanopan


Pesanggrahan Kotanopan merupakan pesanggrahan terbesar dan terbagus di Sumatera pada abad XIX. Bahkan Presiden Soekarno pun pernah berkunjung ke pesanggrahan ini pada 16 Juni 1948 untuk menggelar rapat raksasa. Di depan pesanggrahan ini juga terdapat prasasti yang memuat nama para Perintis Kemerdekaan yang berasal dari tanah Mandailing.